Rabu, 26 Februari 2014

Catatan : Doa penyampai rindu

Aku menatapnya, lagi dan lagi. Melihat senyumnya, mengamati ekspresi wajahnya, membuat gejolak sendiri di dadaku. Aku sangat mengaguminya. Meski kurasa ini hanya obsesi belaka. Obsesi ingin memiliki sosoknya yang begitu menarikku. 
Kala ia menoleh kearahku, aku slalu membuang muka. Tersipu dalam hati, tak ingin dia tau bahwa aku sangat memujanya. 
Kala kudekati ia, ia slalu bersikap cuek. Seperti tak peduli akan sekitar. Tapi kuberanikan diri tuk bicara padanya, dengan memasang wajah stoic. Agar ia tak tau gejolak menyenangkan yg kurasakan saat aku berada didekatnya. 
Kala ku tak bertemu dengannya, rasa sesak itu datang. Sesak ingin bertemu, sesak menahan rindu. Aku ingin mengatakan "aku merindukanmu". Namun apa daya? Itu tak mungkin terjadi. Aku bukan siapa-siapanya. Ia bahkan tak peduli tentang perasaanku padanya? 
Kala ku nyatakan cinta, saat itu pula bebanku seperti terangkat. Aku tersenyum, meski jawabannya tak memuaskanku. Sedikitpun aku tak merasa malu. Yang kurasa hanya rasa lega telah mengungkapkan apa yg kurasakan. 
Kala aku harus berdekatan dengannya lagi. Kukesampingkan rasa yg bergejolak dalam dadaku. Ku coba alihkan perhatianku dari eksistensimu. Meski sesungguhnya, aku sungguh salah tingkah. 
Kala kurasa aku sudah lelah. Kuputuskan tuk mencari penggantinya. Menggantikan eksistensinya dengan orang lain. Mencoba katakan pada semua orang, bahwa ku kini sudah tak mengaguminya lagi. Meski sesungguhnya mata ini selalu memperhatikan setiap pergerakannya. 
Kala ku berdoa pada sang pencipta, terbayang wajahmu yang sangat mengagumkan. Senyummu yang memabukan, dan tawamu yang membuatku terbang. Aku tersenyum dalam doaku. Kupanjatkan doa untuknya. Hingga kurasakan disetiap langkahku hanya terbayang oleh wajahnya, bahkan pikiranku hanya terfokus padanya. Kini kusadari, rasa yang ku rasa yang dulu kuanggap hanya obsesi belaka. Kini berubah menjadi cinta yang nyata. 
Kala kudengar kau sedang jatuh cinta pada seseorang. Aku tersenyum, senyum pedih yg kutunjukan. Aku tak tau siapa orang beruntung yang kau cintai. Namun yang kutau, itu bukan aku. Kala ku katakan pada mereka bahwa ku merasa sesak. Mereka bertanya padaku, apa aku masih mencintainya? Akupun menjawab dengan senyuman, dan kukatakan pada mereka bahwa aku sungguh masih mencintainya sejak dulu. Bahkan tak berubah sama sekali. 
Kini, kurasakan sesak itu semakin membunuhku. Setiap mereka membicarakannya. Aku hanya bisa tersenyum pedih, menahan tangis yang bisa kapan saja terjatuh. Sesak ini sungguh berbeda, tak seperti biasanya. Seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang menyesakkan. Sesuatu yang membuat mataku memanas. Disetiap doaku, ku ucapkan namanya. Aku ingin ia bahagia dengan wanita pujaannya. Meski itu bukan aku, meski ku harus rasakan sakit kala ia bersama pujaan hatinya. Aku ingin merelakannya bahagia, meski bukan bersamaku. Namun akan slalu terucap doa ini untuknya. Doa yang slalu menghantarkannya disetiap langkahnya. Sungguh, aku sangat mencintainya.