Minggu, 11 Agustus 2013

Cerpen : Maaf

Aku memperhatikan nya dari atas kelas ku, melihatnya tersenyum membuat aku kesal, aku membencinya. Karna Ia, aku tak bisa memiliki gadis pujaanku Rindu. Ia mengacaukan segalanya, dan aku sangat membencinya!
Aku tak mengerti mengapa semua orang begitu mencintainya, mengapa semua orang begitu senang berada di dekatnya, seolah Ia mentari yang sesungguhnya.
Mungkin aku dulu memang pernah mencintainya, tapi itu atas dasar status, tak lebih. Kini, aku begitu membencinya, aku begitu muak melihatnya, Ia bagai momok yang membebani hatiku saat ini.
Aku selalu berharap agar Ia tertembak peluru nyasar yang berasal dari lapangan tembak dekat sekolah kami.
Siang ini begitu terik, hawa panas begitu menyengat hingga ke ubun-ubun. Untunglah ada Rinduku yang mampu membuatku merasa sejuk, dan untungnya si Mentari pembawa hawa panas dihatiku tidak ada. Jadi aku bisa merasa bebas tanpanya.
"De .." Sapaku sambil menghampiri Rindu
"Eh iya ka, kenapa?" Tanyanya
"Gapapa, cuma pengen dekat kamu aja" Jawabku
"Kaka gausah deketin aku lagu deh kaa, aku gaenak sama ka Mentari, dia sayang banget lho sama kaka. Kaka kenapa bisa segampang itu sih berpaling dari dia? Padahal diakan ..."
"Ah udahlah de gausah bahas dia, bikin bete tau ga, mending bahas yang lain aja, ga penting dia mah!" Kataku memotong
"Yaudah terserah kaka aja" katanya lagi
Aku berbincang cukup lama dengan Rindu, berbincang sambil menatap matanya adalah hal yang paling kusuka.
Tiba tiba Mentari datang dan memelukku dari belakang, aku sangat risih dan kesal, aku langsung melepaskan pelukanya dan berlari meninggalkannya, aku tak peduli apa yang terjadi dengannya.
Aku berlari menuju toilet dengan sejuta kesal dalam pikiranku, aku tak mengerti, apa maksudnya Ia memelukku didepan umum seperti itu? Didepan Rindu pula! Dia ingin menghancurkan hubungan ku dengan Rindu lagi? Dasar cewe caper!
Sampai di toilet aku langsung menuju wastafel dan mencuci muka, aku merasa sangat gerah, terlebih atas perlakuannya tadi. Aku merasa ada sesuatu yang basah di bagian punggungku, ah aku baru sadar Mentari pasti tadi menyiram sesuatu kepunggungku! Dasar cewe sialan! Akupun melepas seragamku dan melihat bagian belakang seragamku, dan betapa kesalnya aku ternyata sesuatu yang basah itu adalah darah. Akupun langsung mencari Mentari, aku ingin memakinya karna telah mengotori seragamku dengan darah! Aku berlari ke tempat tadi sambil menggenggam seragamku, ingin rasanya aku melemparinya dengan seragam ini. Aku bingung, mengapa Ia begitu usil mengusik hidupku sih ?
Sampai ditempat tadi aku semakin bingung, tempat itu begitu ramai dan penuh, orang orang sedang mengerubungi sesuatu. Tapi aku tak peduli aku terus menerobos keramaian dan mencari Mentari.
Namun, betapa kagetnya aku saat aku melihat Mentari terjatuh dan terkapar dengan darah yang mengalir dari bagian dadanya. Aku sangat shock melihatnya, aku hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi, dan aku baru menyadari bahwa saat Mentari memelukku ada suara tembakan, apa mungkin Ia tertembak?
Ditengah rasa shock yang menghampiri ku, Raffi sahabatku yang sejak dulu memuja Mentari langsung mendatangiku. Ia marah, kesal, dan kecewa terhadapku. Ternyata tadi Mentari memelukku karna Ia ingin menyelamatkan ku, Ia begitu mencintaiku hingga Ia ingin aku selamat. Aku merasa sangat bodoh saat itu, aku langsung menghampiri jasad Mentari, menggenggam tangannya dan menyentuh pipinya. Saat itu, aku mulai teringat saat kami masih berpacaran, saat aku menggenggam tangannya dan mengusap pipinya. Aku tertegun mengingatnya, dadaku benarbenar sesak, dan tanpa kusadari air mata mengalir di pipiku.
"Mentari, sayang jangan pergi! Aku sayang kamu Mentari" kataku spontan sambil mencium tangannya.
Entah mengapa aku begitu kehilangan sosoknya, aku begitu mencintainya, aku baru menyadari bahwa Ia begitu berarti untukku, akupun baru menyadari bahwa perasaanku untuk Rindu hanya sebatas obsesiku saja . Aku memang bodoh baru menyadari semua ini ketika Ia telah pergi. Aku sungguh menyesal pernah mengabaikannya dan membencinya, aku sangat menyesal.
Seminggu setelah kepergian Mentari, aku begitu rapuh, aku merindukannya. Aku rindu memperhatikannya dari kelasku, aku rindu melihat senyum indahnya yang selalu membuatku kesal, aku rindu melihat keceriaannya yang membuatku muak, dan sekarang tak ada lagi Mentari yang selalu menghangatkan jiwaku.
Andai saja aku bisa bertemu dengannya aku ingin mengungkapkan isi hatiku, aku ingin mengatakan bahwa aku tak pernah membencinya, aku selalu mencintainya, dan aku selalu menyayanginya, dan kini aku merindukannya.
Ditengah kegalauanku, aku mengunjungi kelasku dan Mentari dulu, tempat dimana aku mengungkapkan isi hatiku pada Mentari, tempat aku dan Mentari bercanda dan tertawa bersama. Disana aku hanya sendirian memandangi foto kami, sambil mengenang masa masa bahagia kami. Tanpa sadar Rindu datang, Ia menceritakan padaku bahwa semalam Ia memimpikan Mentari, Mentari berpesan untuk memberikan VCD yang Mentari buat sehari sebelum Mentari meninggal, aku tercengang dan mengucapkan terima kasih pada Rindu, dan Rindupun berlalu meninggalkanku.
Akupun langsung pulang, aku tak sabar ingin melihat isi VCD yang dibuat Mentari. Sampai di rumah aku langsung menyalakan laptop dan menontonnya dikamar, aku tak ingin orang lain tau kalau sewaktu waktu aku tiba tiba menangis.
Opening video itu membuatku menahan tangis, disitu ada Mentari yang terlihat sangat cantik dengan baju yang pernah kubelikan untuknya, yang belum sempat kulihat saat Ia memakainya, Ia tersenyum dan menyapaku dengan gaya khasnya.
"Hai Derr, apa kabar? Hm maaf ya mungkin menurut kamu, kamu ga bisa milikin Rindu karna aku, aku minta maaf banget, padahal ga gitu sebenarnya, aku deketin Rindu justru supaya kamu bisa milikin dia, aku minta dia buat nerima kamu, tapi sayangnya Rindu gamau, aku jg gatau alasannya kenapa. Tapi, jujur aku ga ada maksud bikin dia jauhin kamu. Aku juga mau kok kamu bahagia, meskipun itu bukan sama aku, meskipun itu buat aku sakit, tapi aku gapapa asalkan kamu bahagia. Tapi kayaknya kamu salah pengertian yah? Sampe kamu benci banget gitu sama aku. Hmm yaudahlah gapapa, semoga kamu bisa ngerti ya, maaf karna selama ini udah bikin kamu kesel, maaf juga karna selama ini mungkin aku ngerepotin kamu. Maaf banget. Tapi kalo boleh jujur, aku masih sayang banget kamu hehe" kata Mentari dalam video itu.
Seketika aku menangis ketika video itu berakhir dan memunculkan foto foto kenanganku dengan Mentari, terlebih back sound lagu yang dipakai merupakan lagu favorit kami.

Aku menyesal telah menyianyiakannya, dan akupun menyesal telah membencinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar