Berhenti mengharapkan orang yan selalu kita harapkan itu ... SULIT.
Kita sudah terbiasa berharap, dan kitapun sudah terbiasa menikmati harapan-harapan yang terkadang kita tahu bahwa itu SEMU!
Mungkin, ini sama seperti saat kita menyianyiakan orang yang menyayangi kita.
Kita biasa mendapat perhatian mereka, dan kita pun terbiasa menyianyiakan mereka.
Tetapi ketika orang itu merasa lelah, dan hendak pergi.
Kita mulai mencari-cari orang itu, kita mulai merasa butuh.
Dan entah sadar atau tidak, kita memberi harapan kepada orang itu.
Padahal kita tahu itu salah, tapi kita tetap melakukannya.
Yang sebenarnya, kita hanya ingin mendapat perhatian dari orang itu lagi.
Sadar atau engga, itu menyakiti orang yang menyayangi kita.
Dan itu pun terjadi juga pada kita, ketika kita mulai mengharapkan orang lain.
Saat kita ingin pergi, tibatiba dia memberi harapan.
Tapi saat kita setia menunggunya, dia malah menyianyiakan kesetiaan kita.
Entah ini karma atau bukan, yang pasti setiap orang ingin di kejar, dan mengejar.
Meski terkadang kita mengejar orang yang salah dan menyianyiakan orang yang mengejar kita.
Senin, 21 Oktober 2013
Senin, 12 Agustus 2013
Malam Tanpa Bintang
"Hal tersulit dalam hidupku adalah melihat orang yang ku cintai, mencintai orang lain"
Air mataku terjatuh ketika ku melihat ia menyatakan cinta kepada gadis itu, sulit bagiku menerimanya, aku terlalu mencintainya hingga aku sulit melepasnya dari hidupku."Hey? Nangis lagi?" sapa sahabatku Langit sambil menghampiriku
"Ah engga kok cuma perih aja matanya hehe" kataku mengelak
"Udah gausah bohong deh, keliatan tau" katanya
"Emang keliatan ya?" tanyaku
"Iya lah, udahlah gausah nangisin dia, ga guna tau!" katanya kesal
"Nyesek tau liat orang yg kita sayang nyatain perasaannya ke orang lain, kita juga baru 2hari putus, kok segampang itu sih dia ngelupain semuanya? Emang kenangan 1 tahun pacaran gaada yang membekas ya di hati dia?"kataku sedih
"Iya tau, tapi gaada gunanya lo nangisin dia! Emang dia nangisin lo? Enggakan? Udah aah jangan nangis lagi!" katanya sambil menghapus air mataku
"Iya sih" kataku murung
"Yaudah jangan nangis lagi, mana nih Riani gue yang selalu ceria?" tanyanya menguatkanku
"Di depan lo!" kataku sambil tersenyum
"Nah gitu dong senyum kan cantik! " katanya sambil mencubit pipi ku
"Hahaha iyaa berarti tadi jelek dong?"tanyaku meledek
"Iya, jelek banget malah! Eh udah yuuuk ditungguin anak anak tuh! Katanya mau ngajakin nonton"ajaknua sambil menggandeng tanganku
"Oh gitu, yaudah yuuk" kataku mengikuti
Aku berjalan mengikui Langit menuju kantin sekolah tempat sahabat sahabatku mungguku.
"Heey guys" sapaku dengan ceria
"Hey Raaaannnn" jawab mereka serempak
"Kemana aja sih? Dicariin tau!" tanya Diana
"Aku abis dari atas tadi hehe males turun kebawah siih hehe" jawabku
"Iya abis nangis tuh tadi" ledek Langit
"Engga kok engga, gossip aja lu ngit" kataku mengelak sambil mencubit perut Langit
"Eh udah udah, ini kita jadi nonton ga?" tanya Tania
"Eh iya jadi ga? Mau nonton apaan emang?" tanyaku
"Kayanya jangan nonton deh, mending karokean aja? Gimana?" kata Diana menyarankan
"Hm yaudah yuuuk, karokean dimananih?" kataku
"Yah kalo karokean gue gaikutan deh, emang gue cowo apaan?" kata Langit
"Cowo jadijadian hahahahaha" kataku Alisha, Tania, dan Diana kompak
"Yeee enak aja, yaudah gue balik duluan deh yaaa" protesnya sambil berlalu
"Yaudah sono hush hush" kata Tania sambil pura pura mengusir
"Haha iya gih sono, hatihati yaaa" kataku
"Yo" katanya sambil melambaikan tangan dengan gaya khasnya
Aku dan sahabat sahabat ku pun kemudian pergi menuju tempat karoke di mall dekat sekolah kami, aku begitu bahagia ketika bersama mereka, dan aku pun bisa melupakan semua kegalauanku.
Satu bulan setelah aku dan Rifky mantanku putus, aku menjalani hari hari ku dengan keceriaan dan kebahagiaan bersama sahabat sahabatku.
Pagi itu, aku sedang duduk di kursi taman dekat rumahku sambil membaca novel teen-lit penulis favoritku, tiba tiba Rifky datang menghampiriku.
"Hey Ri, asik banget baca novelnya hehe" sapanya hangat
"Eh kamu, iya lagi seru sih hehe. 0hya, kamu ngapain kesini?" tanyaku ramah
"Hm ga ngapa ngapain sih, cuma lagi lari pagi aja" katanya
"Ohahaha kok tumben lari pagi disini?" tanya ku lagi
"Iya, kali aja ketemu kamu hehe. Eh nanti malem ada waktu ga? Kita makan nasi goreng sea food yang ada dideket sekolah yuuk?" ajaknya
"Hmm boleh" kataku mengiyakan
"Yaudah, nanti aku jemput jam 7 yah?" katanya
"Oke" kataku
"Yaudah kamu lanjutin bacanya deh, aku pulang dulu yah, udah gerah nih hehe" katanya lagi
"Oh iya hatihati ya" kataku
"Iya" katanya sambil berlalu
Malamnya ia menjemputku dengan motor vixionnya, kami langsung menuju tempat nasi goreng yang biasa kami kunjungi dulu saat masih berpacaran.
"Aku kangen tempat ini, inget ga dulu waktu pertama kali kita kesini? Kalo ga salah waktu itu kita abis beli sepatu aku kan yah?" tanyanya
"Haha iyah, inget ga? Waktu itu kamu ngerjain aku gitu, kita muter muter mall dari satu mall ke mall yang lain, terus kita balik lagi deh ke mall yang pertama hahaha " kataku
"Iyaa, dulu indah ya?" katanya sambil mengingat kenangan kami
"Haha iyaaa, indah banget malah haha" kataku
"Hm udah lama yah kita ga jalan bareng gini?" tanyanya
"Lho? Kamu kan lagi sibuk sama yg baru" ledekku
"Haha iya aku terlalu sibuk ya? Maaf yaa" katanya
"Hahaha kok minta maaf? Wajar kali, namanya juga baru jadian, ohya gimana hubungan kamu sama dia? Lancar lancar aja kan?" kataku lagi
"Hm aku ga jadian sama dia Ri, aku keingetan kamu. Aku baru sadar kalo aku sayangnya sama kamu, aku baru sadar kalo dia cuma obsesi aku aja. Maafin aku ya karna udah ninggalin kamu" katanya sambil menatap dengan tatapan sendunya
"Iya, udah aku maafin kok" kataku sambil tersenyum
"Riani, kamu mau ga kasih kesempatan aku buat perbaikin semuanya? Kita ulang semuanya dari awal, kita perbaikin semuanya. Kamu mau kan?" tanyanya sambil menatap mataku dengan serius
"Rifky, maaf yah aku gabisa" jawabku
"Kenapa?" tanyanya sedih
"Aku lagi mau sendiri dulu, lagi pula aku gamau ngerasa sakit lagi kayak dulu, maaf yah" kataku
"Aku tau aku salah, aku minta maaf, aku nyesel. Aku janji gaakan nyakitin kamu lagi, aku janji bakalan perbaikin semuanya, aku janji bakalan bahagiain kamu. Aku janji" katanya memelas
"Maaf yah, aku gabisa. Lagian, kamu gabisa egois kayak gini, kamu dulu nyuruh aku pergi dari hidup kamu, sekarang kamu dengan gampangnya minta aku balik" kataku lagi
"Yaudahdeh, tapi kamu beneran maafin aku kan? Kita tetep sahabatan kayak dulu kan?" tanyanya
"Iya aku beneran maafin kamu kok, kita juga tetep sahabatan kok" kataku sambil tersenyum
"Makasih ya Ri" katanya
"Iyaa sama sama Rif, makasih juga traktirannya hehe. Eh kita pulang yuuk? Udah malem, aku takut dicariin" kataku
"Yaudah yuk" katanya
Kadang kita bingung apa fungsi bintang dimalam hari tapi ketika bintang itu hilang tidak ada kita baru akan merasa kehilangan keindahan bintang itu. Sama halnya seperti cinta ketika cinta itu ada disekililing kita kadang kita terasa tak membutuhkannya tapi ketika cinta pergi menghilang jauh kita baru akan merasakan suatu kekosongan.
Minggu, 11 Agustus 2013
Cerpen : Maaf
Aku memperhatikan nya dari atas kelas ku, melihatnya tersenyum membuat aku kesal, aku membencinya. Karna Ia, aku tak bisa memiliki gadis pujaanku Rindu. Ia mengacaukan segalanya, dan aku sangat membencinya!
Aku tak mengerti mengapa semua orang begitu mencintainya, mengapa semua orang begitu senang berada di dekatnya, seolah Ia mentari yang sesungguhnya.
Mungkin aku dulu memang pernah mencintainya, tapi itu atas dasar status, tak lebih. Kini, aku begitu membencinya, aku begitu muak melihatnya, Ia bagai momok yang membebani hatiku saat ini.
Aku selalu berharap agar Ia tertembak peluru nyasar yang berasal dari lapangan tembak dekat sekolah kami.
Siang ini begitu terik, hawa panas begitu menyengat hingga ke ubun-ubun. Untunglah ada Rinduku yang mampu membuatku merasa sejuk, dan untungnya si Mentari pembawa hawa panas dihatiku tidak ada. Jadi aku bisa merasa bebas tanpanya.
"De .." Sapaku sambil menghampiri Rindu
"Eh iya ka, kenapa?" Tanyanya
"Gapapa, cuma pengen dekat kamu aja" Jawabku
"Kaka gausah deketin aku lagu deh kaa, aku gaenak sama ka Mentari, dia sayang banget lho sama kaka. Kaka kenapa bisa segampang itu sih berpaling dari dia? Padahal diakan ..."
"Ah udahlah de gausah bahas dia, bikin bete tau ga, mending bahas yang lain aja, ga penting dia mah!" Kataku memotong
"Yaudah terserah kaka aja" katanya lagi
Aku berbincang cukup lama dengan Rindu, berbincang sambil menatap matanya adalah hal yang paling kusuka.
Tiba tiba Mentari datang dan memelukku dari belakang, aku sangat risih dan kesal, aku langsung melepaskan pelukanya dan berlari meninggalkannya, aku tak peduli apa yang terjadi dengannya.
Aku berlari menuju toilet dengan sejuta kesal dalam pikiranku, aku tak mengerti, apa maksudnya Ia memelukku didepan umum seperti itu? Didepan Rindu pula! Dia ingin menghancurkan hubungan ku dengan Rindu lagi? Dasar cewe caper!
Sampai di toilet aku langsung menuju wastafel dan mencuci muka, aku merasa sangat gerah, terlebih atas perlakuannya tadi. Aku merasa ada sesuatu yang basah di bagian punggungku, ah aku baru sadar Mentari pasti tadi menyiram sesuatu kepunggungku! Dasar cewe sialan! Akupun melepas seragamku dan melihat bagian belakang seragamku, dan betapa kesalnya aku ternyata sesuatu yang basah itu adalah darah. Akupun langsung mencari Mentari, aku ingin memakinya karna telah mengotori seragamku dengan darah! Aku berlari ke tempat tadi sambil menggenggam seragamku, ingin rasanya aku melemparinya dengan seragam ini. Aku bingung, mengapa Ia begitu usil mengusik hidupku sih ?
Sampai ditempat tadi aku semakin bingung, tempat itu begitu ramai dan penuh, orang orang sedang mengerubungi sesuatu. Tapi aku tak peduli aku terus menerobos keramaian dan mencari Mentari.
Namun, betapa kagetnya aku saat aku melihat Mentari terjatuh dan terkapar dengan darah yang mengalir dari bagian dadanya. Aku sangat shock melihatnya, aku hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi, dan aku baru menyadari bahwa saat Mentari memelukku ada suara tembakan, apa mungkin Ia tertembak?
Ditengah rasa shock yang menghampiri ku, Raffi sahabatku yang sejak dulu memuja Mentari langsung mendatangiku. Ia marah, kesal, dan kecewa terhadapku. Ternyata tadi Mentari memelukku karna Ia ingin menyelamatkan ku, Ia begitu mencintaiku hingga Ia ingin aku selamat. Aku merasa sangat bodoh saat itu, aku langsung menghampiri jasad Mentari, menggenggam tangannya dan menyentuh pipinya. Saat itu, aku mulai teringat saat kami masih berpacaran, saat aku menggenggam tangannya dan mengusap pipinya. Aku tertegun mengingatnya, dadaku benarbenar sesak, dan tanpa kusadari air mata mengalir di pipiku.
"Mentari, sayang jangan pergi! Aku sayang kamu Mentari" kataku spontan sambil mencium tangannya.
Entah mengapa aku begitu kehilangan sosoknya, aku begitu mencintainya, aku baru menyadari bahwa Ia begitu berarti untukku, akupun baru menyadari bahwa perasaanku untuk Rindu hanya sebatas obsesiku saja . Aku memang bodoh baru menyadari semua ini ketika Ia telah pergi. Aku sungguh menyesal pernah mengabaikannya dan membencinya, aku sangat menyesal.
Seminggu setelah kepergian Mentari, aku begitu rapuh, aku merindukannya. Aku rindu memperhatikannya dari kelasku, aku rindu melihat senyum indahnya yang selalu membuatku kesal, aku rindu melihat keceriaannya yang membuatku muak, dan sekarang tak ada lagi Mentari yang selalu menghangatkan jiwaku.
Andai saja aku bisa bertemu dengannya aku ingin mengungkapkan isi hatiku, aku ingin mengatakan bahwa aku tak pernah membencinya, aku selalu mencintainya, dan aku selalu menyayanginya, dan kini aku merindukannya.
Ditengah kegalauanku, aku mengunjungi kelasku dan Mentari dulu, tempat dimana aku mengungkapkan isi hatiku pada Mentari, tempat aku dan Mentari bercanda dan tertawa bersama. Disana aku hanya sendirian memandangi foto kami, sambil mengenang masa masa bahagia kami. Tanpa sadar Rindu datang, Ia menceritakan padaku bahwa semalam Ia memimpikan Mentari, Mentari berpesan untuk memberikan VCD yang Mentari buat sehari sebelum Mentari meninggal, aku tercengang dan mengucapkan terima kasih pada Rindu, dan Rindupun berlalu meninggalkanku.
Akupun langsung pulang, aku tak sabar ingin melihat isi VCD yang dibuat Mentari. Sampai di rumah aku langsung menyalakan laptop dan menontonnya dikamar, aku tak ingin orang lain tau kalau sewaktu waktu aku tiba tiba menangis.
Opening video itu membuatku menahan tangis, disitu ada Mentari yang terlihat sangat cantik dengan baju yang pernah kubelikan untuknya, yang belum sempat kulihat saat Ia memakainya, Ia tersenyum dan menyapaku dengan gaya khasnya.
"Hai Derr, apa kabar? Hm maaf ya mungkin menurut kamu, kamu ga bisa milikin Rindu karna aku, aku minta maaf banget, padahal ga gitu sebenarnya, aku deketin Rindu justru supaya kamu bisa milikin dia, aku minta dia buat nerima kamu, tapi sayangnya Rindu gamau, aku jg gatau alasannya kenapa. Tapi, jujur aku ga ada maksud bikin dia jauhin kamu. Aku juga mau kok kamu bahagia, meskipun itu bukan sama aku, meskipun itu buat aku sakit, tapi aku gapapa asalkan kamu bahagia. Tapi kayaknya kamu salah pengertian yah? Sampe kamu benci banget gitu sama aku. Hmm yaudahlah gapapa, semoga kamu bisa ngerti ya, maaf karna selama ini udah bikin kamu kesel, maaf juga karna selama ini mungkin aku ngerepotin kamu. Maaf banget. Tapi kalo boleh jujur, aku masih sayang banget kamu hehe" kata Mentari dalam video itu.
Seketika aku menangis ketika video itu berakhir dan memunculkan foto foto kenanganku dengan Mentari, terlebih back sound lagu yang dipakai merupakan lagu favorit kami.
Aku tak mengerti mengapa semua orang begitu mencintainya, mengapa semua orang begitu senang berada di dekatnya, seolah Ia mentari yang sesungguhnya.
Mungkin aku dulu memang pernah mencintainya, tapi itu atas dasar status, tak lebih. Kini, aku begitu membencinya, aku begitu muak melihatnya, Ia bagai momok yang membebani hatiku saat ini.
Aku selalu berharap agar Ia tertembak peluru nyasar yang berasal dari lapangan tembak dekat sekolah kami.
Siang ini begitu terik, hawa panas begitu menyengat hingga ke ubun-ubun. Untunglah ada Rinduku yang mampu membuatku merasa sejuk, dan untungnya si Mentari pembawa hawa panas dihatiku tidak ada. Jadi aku bisa merasa bebas tanpanya.
"De .." Sapaku sambil menghampiri Rindu
"Eh iya ka, kenapa?" Tanyanya
"Gapapa, cuma pengen dekat kamu aja" Jawabku
"Kaka gausah deketin aku lagu deh kaa, aku gaenak sama ka Mentari, dia sayang banget lho sama kaka. Kaka kenapa bisa segampang itu sih berpaling dari dia? Padahal diakan ..."
"Ah udahlah de gausah bahas dia, bikin bete tau ga, mending bahas yang lain aja, ga penting dia mah!" Kataku memotong
"Yaudah terserah kaka aja" katanya lagi
Aku berbincang cukup lama dengan Rindu, berbincang sambil menatap matanya adalah hal yang paling kusuka.
Tiba tiba Mentari datang dan memelukku dari belakang, aku sangat risih dan kesal, aku langsung melepaskan pelukanya dan berlari meninggalkannya, aku tak peduli apa yang terjadi dengannya.
Aku berlari menuju toilet dengan sejuta kesal dalam pikiranku, aku tak mengerti, apa maksudnya Ia memelukku didepan umum seperti itu? Didepan Rindu pula! Dia ingin menghancurkan hubungan ku dengan Rindu lagi? Dasar cewe caper!
Sampai di toilet aku langsung menuju wastafel dan mencuci muka, aku merasa sangat gerah, terlebih atas perlakuannya tadi. Aku merasa ada sesuatu yang basah di bagian punggungku, ah aku baru sadar Mentari pasti tadi menyiram sesuatu kepunggungku! Dasar cewe sialan! Akupun melepas seragamku dan melihat bagian belakang seragamku, dan betapa kesalnya aku ternyata sesuatu yang basah itu adalah darah. Akupun langsung mencari Mentari, aku ingin memakinya karna telah mengotori seragamku dengan darah! Aku berlari ke tempat tadi sambil menggenggam seragamku, ingin rasanya aku melemparinya dengan seragam ini. Aku bingung, mengapa Ia begitu usil mengusik hidupku sih ?
Sampai ditempat tadi aku semakin bingung, tempat itu begitu ramai dan penuh, orang orang sedang mengerubungi sesuatu. Tapi aku tak peduli aku terus menerobos keramaian dan mencari Mentari.
Namun, betapa kagetnya aku saat aku melihat Mentari terjatuh dan terkapar dengan darah yang mengalir dari bagian dadanya. Aku sangat shock melihatnya, aku hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi, dan aku baru menyadari bahwa saat Mentari memelukku ada suara tembakan, apa mungkin Ia tertembak?
Ditengah rasa shock yang menghampiri ku, Raffi sahabatku yang sejak dulu memuja Mentari langsung mendatangiku. Ia marah, kesal, dan kecewa terhadapku. Ternyata tadi Mentari memelukku karna Ia ingin menyelamatkan ku, Ia begitu mencintaiku hingga Ia ingin aku selamat. Aku merasa sangat bodoh saat itu, aku langsung menghampiri jasad Mentari, menggenggam tangannya dan menyentuh pipinya. Saat itu, aku mulai teringat saat kami masih berpacaran, saat aku menggenggam tangannya dan mengusap pipinya. Aku tertegun mengingatnya, dadaku benarbenar sesak, dan tanpa kusadari air mata mengalir di pipiku.
"Mentari, sayang jangan pergi! Aku sayang kamu Mentari" kataku spontan sambil mencium tangannya.
Entah mengapa aku begitu kehilangan sosoknya, aku begitu mencintainya, aku baru menyadari bahwa Ia begitu berarti untukku, akupun baru menyadari bahwa perasaanku untuk Rindu hanya sebatas obsesiku saja . Aku memang bodoh baru menyadari semua ini ketika Ia telah pergi. Aku sungguh menyesal pernah mengabaikannya dan membencinya, aku sangat menyesal.
Seminggu setelah kepergian Mentari, aku begitu rapuh, aku merindukannya. Aku rindu memperhatikannya dari kelasku, aku rindu melihat senyum indahnya yang selalu membuatku kesal, aku rindu melihat keceriaannya yang membuatku muak, dan sekarang tak ada lagi Mentari yang selalu menghangatkan jiwaku.
Andai saja aku bisa bertemu dengannya aku ingin mengungkapkan isi hatiku, aku ingin mengatakan bahwa aku tak pernah membencinya, aku selalu mencintainya, dan aku selalu menyayanginya, dan kini aku merindukannya.
Ditengah kegalauanku, aku mengunjungi kelasku dan Mentari dulu, tempat dimana aku mengungkapkan isi hatiku pada Mentari, tempat aku dan Mentari bercanda dan tertawa bersama. Disana aku hanya sendirian memandangi foto kami, sambil mengenang masa masa bahagia kami. Tanpa sadar Rindu datang, Ia menceritakan padaku bahwa semalam Ia memimpikan Mentari, Mentari berpesan untuk memberikan VCD yang Mentari buat sehari sebelum Mentari meninggal, aku tercengang dan mengucapkan terima kasih pada Rindu, dan Rindupun berlalu meninggalkanku.
Akupun langsung pulang, aku tak sabar ingin melihat isi VCD yang dibuat Mentari. Sampai di rumah aku langsung menyalakan laptop dan menontonnya dikamar, aku tak ingin orang lain tau kalau sewaktu waktu aku tiba tiba menangis.
Opening video itu membuatku menahan tangis, disitu ada Mentari yang terlihat sangat cantik dengan baju yang pernah kubelikan untuknya, yang belum sempat kulihat saat Ia memakainya, Ia tersenyum dan menyapaku dengan gaya khasnya.
"Hai Derr, apa kabar? Hm maaf ya mungkin menurut kamu, kamu ga bisa milikin Rindu karna aku, aku minta maaf banget, padahal ga gitu sebenarnya, aku deketin Rindu justru supaya kamu bisa milikin dia, aku minta dia buat nerima kamu, tapi sayangnya Rindu gamau, aku jg gatau alasannya kenapa. Tapi, jujur aku ga ada maksud bikin dia jauhin kamu. Aku juga mau kok kamu bahagia, meskipun itu bukan sama aku, meskipun itu buat aku sakit, tapi aku gapapa asalkan kamu bahagia. Tapi kayaknya kamu salah pengertian yah? Sampe kamu benci banget gitu sama aku. Hmm yaudahlah gapapa, semoga kamu bisa ngerti ya, maaf karna selama ini udah bikin kamu kesel, maaf juga karna selama ini mungkin aku ngerepotin kamu. Maaf banget. Tapi kalo boleh jujur, aku masih sayang banget kamu hehe" kata Mentari dalam video itu.
Seketika aku menangis ketika video itu berakhir dan memunculkan foto foto kenanganku dengan Mentari, terlebih back sound lagu yang dipakai merupakan lagu favorit kami.
Aku menyesal telah menyianyiakannya, dan akupun menyesal telah membencinya.
Sabtu, 10 Agustus 2013
Cinta itu masih ada
Perasaan itu masih ada, perasaan cintaku untukmu yang begitu dalam, kini masih tersimpan rapi dihatiku..
Meski kau telah meninggalkanku, meski kau telah membuat luka yg begitu mendalam untukku, namun rasa cintaku untukmu tetap sama, seperti saat pertama kita bertemu, seperti saat awal kita berpacaran dulu
Mungkin aku memang bodoh mencintaimu yang jelas jelas hanya mengabaikanku.
Mungkin aku memang bodoh masih mengharapkan mu meski ku tahu hatimu bukan untukku
Namun, entah mengapa hatiku selalu merasa yakin.
Yakin bahwa cintamu hanya untukku, dan perasaanmu untuknya hanya obsesimu saja.
Mungkin untukmu, perasaan ku itu hanya sekedar khayalanku saja, karna aku tak bisa menerima kenyataan kau meninggalkanku untuk orang lain:"
Entahlah, yang pasti aku hanya mencintaimu saat ini sayang:")
Move On!
"You have to move on! You just hurt yourself! Forget him!"
Pernahkah kalian mencintai seseorang dengan begitu dalam?
Pernahkah kalian menyayangi seseorang dengan setulus hati kalian?
Jika "ya"
Apakah saat orang itu memilih pergi, dengan mudah kalian melupakannya?
Apakah saat ia menyakitimu, dengan sekejap perasaan itu hilang?
Tentu tidak.
Karna, ketika kamu mencintai seseorang begitu dalam kalian akan melakukan apapun untuknya
Meski orang yang kamu cintai telah menyakitimu, dan meninggalkan luka yang begitu mendalam.
Move On!
Tentu kaliam sering mendengar dua kata itu.
Dua kata yang sulit untuk dijalankan.
Ya! Move On memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
Mungkin, orang yang mengatakan Move On itu mudah, adalah orang yang belum pernah merasakan cinta yang begitu dalam, dan mungkin mereka belum pernah merasa kehilangan yang begitu sakitnya.
Karna orang yang benar-benar mencintai dengan tulus tidak akan mudah melupakan orang yang ia cintai, meskipun itu hanya menyakiti dirinya sendiri:')
Meski orang yang kamu cintai telah menyakitimu, dan meninggalkan luka yang begitu mendalam.
Move On!
Tentu kaliam sering mendengar dua kata itu.
Dua kata yang sulit untuk dijalankan.
Ya! Move On memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
Mungkin, orang yang mengatakan Move On itu mudah, adalah orang yang belum pernah merasakan cinta yang begitu dalam, dan mungkin mereka belum pernah merasa kehilangan yang begitu sakitnya.
Karna orang yang benar-benar mencintai dengan tulus tidak akan mudah melupakan orang yang ia cintai, meskipun itu hanya menyakiti dirinya sendiri:')
Kau dan dia
Kau, orang yang menempati posisi pertama dalam hatiku, orang yang telah mencuri hatiku, orang yang selalu menjadi prioritas dalam hidupku, orang yang telah mendapatkan tempat dihatiku.
Sedangkan dia, orang yang menyelinap ke dalam hatiku, orang yang berusaha mencuri hatiku, dan orang yang sempat mewarnai hari hari ku, orang yang masih mencari tempat untuk menggantikanmu dihatiku.
Sejujurnya, aku tak mengerti akan hatiku.
Terkadang ketika aku melihatnya, ketika Ia memberi senyum terindahnya untukku, duniaku terasa teralihkan, duniaku terasa berputar 180 derajat. Ia mengubah pola pikirku akan engkau.
Senyum indahnya, mampu membuat aku tersenyum seharian, dan mampu mengantarkan aku terlelap tidur.
Namun, ketika aku terbangun bayang akan dia menghilang begitu saja. Dan akupun kembali mengingatmu, akupun kembali merasa kehilanganmu, aku kembali menangis karenamu:"
Sayang, begitu berartinya engkau untukku. Begitu dalamnya cintaku untukmu. Mengapa kau masih mengabaikanku? Mengapa kau masih mengejar Ia? Padahal sudah jelas aku yang mencintaimu:"
Sedangkan dia, orang yang menyelinap ke dalam hatiku, orang yang berusaha mencuri hatiku, dan orang yang sempat mewarnai hari hari ku, orang yang masih mencari tempat untuk menggantikanmu dihatiku.
Sejujurnya, aku tak mengerti akan hatiku.
Terkadang ketika aku melihatnya, ketika Ia memberi senyum terindahnya untukku, duniaku terasa teralihkan, duniaku terasa berputar 180 derajat. Ia mengubah pola pikirku akan engkau.
Senyum indahnya, mampu membuat aku tersenyum seharian, dan mampu mengantarkan aku terlelap tidur.
Namun, ketika aku terbangun bayang akan dia menghilang begitu saja. Dan akupun kembali mengingatmu, akupun kembali merasa kehilanganmu, aku kembali menangis karenamu:"
Sayang, begitu berartinya engkau untukku. Begitu dalamnya cintaku untukmu. Mengapa kau masih mengabaikanku? Mengapa kau masih mengejar Ia? Padahal sudah jelas aku yang mencintaimu:"
Ingatkah?
Ingatkah saat pertama kita bertemu?
Saat kau menatapku, dan tersenyum padaku?
Ingatkah saat kita saling menyatakan perasaan?
Handphone mu dan handphoneku yang menjadi saksi bahagia kita
Ingatkah saat kau memintaku menjadi kekasihmu?
Dan saat ku jawab "ya" ?
Saat itu hanya kita yang tau bagaimana bahagianya kita
Senyum indah itu terukir manis di wajah kita, menggambarkan betapa bahagianya kita, betapa indahnya hari itu
Ingatkah saat kita bersama?
Saat kita memilih jalan memutar untuk sampai rumahku agar kita bisa tetap bersama?
Agar kita memiliki waktu yang lama untuk tetap bersama?
Ingatkah saat kita saling memendam rindu?
Saat itu kita matimatian meluangkan waktu kita untuk bertemu
Untuk sekedar mengobati rindu yang menyiksa kita
Meskipun saat itu kita harus "kucing-kucingan" karna hubungan kita belum direstui oleh orangtuaku
Ingatkah saat hari ulang tahunmu?
Saat aku memberimu surprise?
Kau tampak sangat bahagia saat itu
Ingatkah saat hari jadi kita yang ke 2bulan?
Ketika kita sibuk mengerjakan tugas dirumahku hingga larut malam?
Kau pulang sekitar pukul 11.30 malam
Sebelum kau pulang, kita sempat teringat akan hari jadi kita
Kita pun merayakannya didepan rumahku
Kau mencium keningku dengan sangat mesra saat itu:')
Dan kita merasa sangat bahagia saat itu
Kau pernah bilang bahwa hari itu hari yang selalu kau ingat:')
Sayang, saat-saat itu begitu indah
Aku tak bisa melupakannya
Tapi, mengapa kau begitu mudahnya melupakan saat-saat itu?
Kita telah melewati saat-saat indah dan saat-saat sulit bersama
Apa kau masih tega mengabaikanku?
Apa kau masih ingin mengejarnya?:"
Saat kau menatapku, dan tersenyum padaku?
Ingatkah saat kita saling menyatakan perasaan?
Handphone mu dan handphoneku yang menjadi saksi bahagia kita
Ingatkah saat kau memintaku menjadi kekasihmu?
Dan saat ku jawab "ya" ?
Saat itu hanya kita yang tau bagaimana bahagianya kita
Senyum indah itu terukir manis di wajah kita, menggambarkan betapa bahagianya kita, betapa indahnya hari itu
Ingatkah saat kita bersama?
Saat kita memilih jalan memutar untuk sampai rumahku agar kita bisa tetap bersama?
Agar kita memiliki waktu yang lama untuk tetap bersama?
Ingatkah saat kita saling memendam rindu?
Saat itu kita matimatian meluangkan waktu kita untuk bertemu
Untuk sekedar mengobati rindu yang menyiksa kita
Meskipun saat itu kita harus "kucing-kucingan" karna hubungan kita belum direstui oleh orangtuaku
Ingatkah saat hari ulang tahunmu?
Saat aku memberimu surprise?
Kau tampak sangat bahagia saat itu
Ingatkah saat hari jadi kita yang ke 2bulan?
Ketika kita sibuk mengerjakan tugas dirumahku hingga larut malam?
Kau pulang sekitar pukul 11.30 malam
Sebelum kau pulang, kita sempat teringat akan hari jadi kita
Kita pun merayakannya didepan rumahku
Kau mencium keningku dengan sangat mesra saat itu:')
Dan kita merasa sangat bahagia saat itu
Kau pernah bilang bahwa hari itu hari yang selalu kau ingat:')
Sayang, saat-saat itu begitu indah
Aku tak bisa melupakannya
Tapi, mengapa kau begitu mudahnya melupakan saat-saat itu?
Kita telah melewati saat-saat indah dan saat-saat sulit bersama
Apa kau masih tega mengabaikanku?
Apa kau masih ingin mengejarnya?:"
Jumat, 09 Agustus 2013
Untitled
Masih terngiang di ingatanku saat pertama kali kita bertemu
Kala itu aku tak begitu mempedulikanmu
Namun hati ini begitu tertarik akan engkau
Hari demi hari kita lalui
Tanpa kusadari, seiring berjalannya waktu
Kita semakin dekat
Benih cinta itu mulai tumbuh diantara kita
Dan akupun mulai memberanikan diri mengungkapkan perasaanku terhadapmu
Betapa bahagianya aku, ketika kau merasakan hal yang sama
Hingga akhirnya, saat itu kau memintaku untuk jadi kekasihmu
Dengan perasaan sangat bahagia saat itu ku terima engkau
Hari demi hari kujalani bersamamu
Kau begitu berarti untukku
Dan akupun begitu berarti untukmu
Aku mencitaimu dan kau pun mencintaiku
Semuanya begitu indah, begitu manis
Namun itu dulu
Sebelum kau pergi
Sebelum kau meninggalkanku
Sebelum kau sakitiku dengan kata "putus"
Dan sebelum kau tertarik padanya
Kini
Kau begitu mudah melupakan semuanya
Kau begitu mudah melupakan kenangan kita
Kau begitu mudah melupakanku
Kau begitu mudah mengungkapkan perasaanmu untuk wanita lain
Sayang
Aku disini masih memikirkanmu
Masih mengingatmu
Dan masih mencintaimu
Kamu, dan kenangan kita
2 Hal yang tak mungkin bisa kulupakan
2 Hal yang begitu indah untukku
Terimakasih untuk 11 bulan yang begitu indah
Aku disini masih mencintaimu ..
Kala itu aku tak begitu mempedulikanmu
Namun hati ini begitu tertarik akan engkau
Hari demi hari kita lalui
Tanpa kusadari, seiring berjalannya waktu
Kita semakin dekat
Benih cinta itu mulai tumbuh diantara kita
Dan akupun mulai memberanikan diri mengungkapkan perasaanku terhadapmu
Betapa bahagianya aku, ketika kau merasakan hal yang sama
Hingga akhirnya, saat itu kau memintaku untuk jadi kekasihmu
Dengan perasaan sangat bahagia saat itu ku terima engkau
Hari demi hari kujalani bersamamu
Kau begitu berarti untukku
Dan akupun begitu berarti untukmu
Aku mencitaimu dan kau pun mencintaiku
Semuanya begitu indah, begitu manis
Namun itu dulu
Sebelum kau pergi
Sebelum kau meninggalkanku
Sebelum kau sakitiku dengan kata "putus"
Dan sebelum kau tertarik padanya
Kini
Kau begitu mudah melupakan semuanya
Kau begitu mudah melupakan kenangan kita
Kau begitu mudah melupakanku
Kau begitu mudah mengungkapkan perasaanmu untuk wanita lain
Sayang
Aku disini masih memikirkanmu
Masih mengingatmu
Dan masih mencintaimu
Kamu, dan kenangan kita
2 Hal yang tak mungkin bisa kulupakan
2 Hal yang begitu indah untukku
Terimakasih untuk 11 bulan yang begitu indah
Aku disini masih mencintaimu ..
Langganan:
Komentar (Atom)